Bacaan Doa Tawaf, Panduan Lengkap agar Ibadah di Baitullah Makin Khusyuk
- Home
- Bacaan Doa Tawaf, Panduan Lengkap agar Ibadah di Baitullah Makin Khusyuk
Bacaan Doa Tawaf, Panduan Lengkap agar Ibadah di Baitullah Makin Khusyuk
Tawaf menjadi salah satu ibadah utama dalam rangkaian haji dan umrah. Ibadah ini dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari arah Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama. Bagi jamaah, tawaf bukan sekadar berjalan mengikuti arus manusia di Masjidil Haram, melainkan momen penuh doa, zikir, harapan, dan penghambaan kepada Allah SWT. Karena itu, memahami bacaan doa tawaf menjadi bekal penting agar hati lebih siap saat berada di hadapan Baitullah.
Tawaf Bukan Sekadar Mengelilingi Ka’bah
Tawaf memiliki kedudukan besar dalam ibadah haji dan umrah. Saat jamaah mengelilingi Ka’bah, tubuh bergerak mengikuti putaran, tetapi hati diarahkan untuk mengingat Allah. Setiap langkah membawa pesan ketundukan, setiap doa menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia datang sebagai hamba yang membutuhkan ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah.
Dalam pelaksanaannya, tawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran. Jamaah memulai dari garis sejajar Hajar Aswad dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri. Setelah itu, jamaah berjalan mengelilingi Ka’bah hingga kembali ke titik awal. Proses ini dilakukan tujuh kali dengan menjaga adab, ketenangan, dan kekhusyukan.
Bacaan saat tawaf tidak harus selalu panjang. Islam memberi ruang bagi jamaah untuk membaca doa, zikir, ayat Al Quran, atau permohonan dengan bahasa yang dipahami. Yang paling penting adalah doa ditujukan kepada Allah SWT dengan hati yang hadir, bukan sekadar mengucapkan kalimat tanpa penghayatan.
Niat Tawaf yang Perlu Dihadirkan Sejak Awal
Sebelum memulai tawaf, jamaah perlu menghadirkan niat sesuai jenis tawaf yang dikerjakan. Ada tawaf umrah, tawaf qudum, tawaf ifadah, tawaf wada, dan tawaf sunah. Niat sebenarnya berada di dalam hati, sehingga tidak wajib dilafalkan dengan suara keras.
Bagi jamaah umrah, niat tawaf dapat dihadirkan dalam hati dengan maksud melaksanakan tawaf untuk ibadah umrah karena Allah SWT. Sebagian orang melafalkannya agar lebih mantap, selama tidak menganggap lafaz tertentu sebagai kewajiban mutlak yang harus sama untuk semua jamaah.
Contoh lafaz niat yang sering dibaca dalam bahasa Arab adalah:
نَوَيْتُ الطَّوَافَ بِهٰذَا الْبَيْتِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya, “Aku berniat tawaf mengelilingi Baitullah ini tujuh putaran karena Allah Ta’ala.”
Niat membantu jamaah menata hati. Saat suasana Masjidil Haram ramai, niat yang jelas membuat langkah terasa lebih terarah. Jamaah tidak hanya ikut berjalan bersama rombongan, tetapi sadar bahwa ia sedang menjalankan ibadah besar.
Bacaan Saat Memulai Tawaf dari Hajar Aswad
Ketika sejajar dengan Hajar Aswad dan hendak memulai putaran, jamaah dianjurkan menghadap atau memberi isyarat ke arah Hajar Aswad jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya. Karena kondisi Masjidil Haram sering sangat ramai, memberi isyarat dari jauh sudah cukup dan lebih aman dibanding memaksakan diri berdesakan.
Bacaan yang umum diucapkan saat memulai tawaf adalah:
بِسْمِ اللّٰهِ اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya, “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.”
Sebagian jamaah juga membaca:
اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya, “Allah Maha Besar.”
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat kuat. Jamaah memulai putaran dengan menyebut nama Allah dan mengagungkan Nya. Dalam suasana jutaan doa yang naik dari Masjidil Haram, takbir menjadi pengingat bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah SWT.
Doa Tawaf Putaran Pertama
Pada putaran pertama, jamaah dapat memperbanyak doa agar ibadah diterima, dosa diampuni, dan hati diberi kekhusyukan. Tidak ada kewajiban doa khusus yang harus dibaca pada putaran pertama. Namun banyak jamaah membaca doa yang berisi permohonan ampunan dan keselamatan.
Contoh doa yang dapat dibaca adalah:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا
Artinya, “Ya Allah, aku memohon kepada Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, rezeki yang luas, hati yang khusyuk, dan lisan yang selalu berzikir.”
Doa seperti ini membantu jamaah membuka tawaf dengan permintaan yang mendasar. Bukan hanya meminta urusan dunia, tetapi juga memohon kekuatan iman dan ketenangan hati.
“Doa terbaik saat tawaf bukan selalu yang paling panjang, tetapi yang paling mampu membuat hati merasa dekat dengan Allah.”
Doa Tawaf Putaran Kedua
Pada putaran kedua, jamaah bisa memohon perlindungan dari sifat buruk, kesalahan, dan dosa yang sering membuat hati jauh dari Allah. Tawaf menjadi momen baik untuk mengakui kelemahan diri dan meminta pertolongan agar menjadi pribadi yang lebih taat.
Contoh doa yang dapat dibaca adalah:
اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya, “Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat Mu, bersyukur kepada Mu, dan beribadah kepada Mu dengan baik.”
Doa ini pendek, tetapi isinya sangat dalam. Banyak orang mampu berdoa ketika sedang sulit, tetapi sering lupa bersyukur saat hidup terasa lapang. Karena itu, memohon agar diberi kemampuan berzikir dan bersyukur menjadi permintaan yang penting.
Jamaah juga dapat menambahkan doa pribadi, seperti memohon agar keluarga dijaga, rezeki diberkahi, hati dijauhkan dari iri, dan langkah hidup diarahkan kepada kebaikan.
Doa Tawaf Putaran Ketiga
Pada putaran ketiga, jamaah dapat memperbanyak istighfar. Tawaf menjadi waktu yang sangat baik untuk memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang disadari maupun tidak disadari. Setiap manusia memiliki kesalahan, dan Baitullah menjadi tempat yang membuat hati lebih mudah luluh.
Bacaan istighfar yang bisa dibaca adalah:
اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Artinya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertobat kepada Nya.”
Jamaah dapat mengulang bacaan ini berkali kali selama berjalan. Jika hati terasa berat, istighfar dapat menjadi jalan untuk menenangkan diri. Tidak perlu terburu buru mengganti bacaan. Kadang satu kalimat istighfar yang diucapkan dengan sungguh sungguh lebih menyentuh daripada banyak doa yang dibaca tanpa hadirnya hati.
Putaran ketiga sering menjadi momen ketika tubuh mulai merasakan lelah, terutama saat area tawaf padat. Pada saat itu, istighfar dapat menjadi penguat batin agar langkah tetap ringan.
Doa Tawaf Putaran Keempat
Pada putaran keempat, jamaah dapat memohon kebaikan untuk keluarga. Banyak orang datang ke Tanah Suci membawa nama orang tua, pasangan, anak, saudara, guru, dan sahabat dalam doa. Tawaf memberi ruang luas untuk menyebut mereka satu per satu di hadapan Allah.
Contoh doa yang dapat dibaca adalah:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا
Artinya, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil.”
Doa untuk orang tua menjadi salah satu doa yang sangat penting. Bagi yang orang tuanya masih hidup, doa ini menjadi bentuk bakti. Bagi yang orang tuanya telah wafat, doa ini menjadi hadiah yang sangat berharga.
Jamaah juga dapat menambahkan permohonan agar keluarga diberi kesehatan, rezeki halal, rumah tangga yang tenteram, anak yang saleh dan salehah, serta perlindungan dari fitnah dunia.
Doa Tawaf Putaran Kelima
Pada putaran kelima, jamaah dapat memohon keselamatan hidup dan kematian yang baik. Dalam Islam, seorang muslim tidak hanya meminta kelapangan dunia, tetapi juga meminta akhir hidup yang diridhai Allah. Karena tidak ada yang tahu kapan ajal datang, doa husnul khatimah menjadi permohonan yang sangat layak dibaca.
Contoh doa yang dapat dibaca adalah:
اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ
Artinya, “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan akhir yang baik, dan jangan Engkau akhiri hidup kami dengan akhir yang buruk.”
Doa ini mengingatkan jamaah bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya tentang datang dan pulang. Ada perjalanan yang lebih panjang, yaitu perjalanan menuju Allah. Tawaf mengajarkan bahwa manusia bergerak dalam putaran hidup, tetapi tujuan akhirnya tetap kembali kepada Sang Pencipta.
Doa Tawaf Putaran Keenam
Pada putaran keenam, jamaah dapat memperbanyak doa untuk umat Islam, orang yang sedang sakit, mereka yang kesulitan, dan saudara yang membutuhkan pertolongan. Tawaf bukan hanya ruang permintaan pribadi, tetapi juga tempat membawa kepedulian untuk orang lain.
Contoh doa yang dapat dibaca adalah:
اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya, “Ya Allah, sembuhkanlah orang yang sakit di antara kami dan orang sakit dari kaum muslimin. Rahmatilah orang yang telah wafat di antara kami dan orang yang telah wafat dari kaum muslimin.”
Doa ini menunjukkan kelembutan hati seorang muslim. Saat berada di tempat yang mulia, jamaah tidak hanya mengingat dirinya sendiri. Ia juga mengingat mereka yang mungkin sedang terbaring sakit, berjuang dalam kesulitan, atau telah meninggalkan dunia.
Putaran keenam biasanya menjadi bagian ketika jamaah mulai merasa tawaf hampir selesai. Pada fase ini, doa untuk orang lain dapat membuat hati lebih luas dan ibadah terasa lebih bermakna.
Doa Tawaf Putaran Ketujuh
Pada putaran ketujuh, jamaah dapat menutup tawaf dengan doa yang penuh harap. Setelah enam putaran dilalui, putaran terakhir menjadi momen untuk mengumpulkan semua permohonan. Jamaah bisa memohon agar ibadah diterima, dosa diampuni, hidup diberkahi, dan pulang dari Tanah Suci membawa hati yang lebih baik.
Contoh doa yang dapat dibaca adalah:
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا طَوَافَنَا وَسَعْيَنَا وَدُعَاءَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Artinya, “Ya Allah, terimalah tawaf kami, sa’i kami, doa kami, dan ampunilah dosa dosa kami, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”
Doa ini dapat dibaca dengan penuh kerendahan hati. Tidak ada manusia yang mampu memastikan ibadahnya diterima. Karena itu, setelah berusaha menjalankan tawaf dengan baik, seorang hamba tetap memohon agar Allah menerima amalnya.
Bacaan Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad
Salah satu doa yang paling dikenal saat tawaf adalah bacaan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Doa ini sangat dianjurkan dibaca pada setiap putaran ketika berada di antara dua titik tersebut.
Bacaannya adalah:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Doa ini singkat, tetapi mencakup permohonan yang sangat luas. Kebaikan dunia dapat berupa kesehatan, rezeki halal, keluarga yang damai, ilmu yang bermanfaat, dan hati yang tenang. Kebaikan akhirat mencakup ampunan, rahmat, surga, dan keselamatan dari siksa.
Karena lafaznya mudah dihafal, jamaah sebaiknya membiasakan membaca doa ini sebelum berangkat haji atau umrah. Dengan begitu, saat tawaf berlangsung, doa dapat mengalir lebih lancar.
Bolehkah Berdoa dengan Bahasa Indonesia Saat Tawaf
Banyak jamaah merasa khawatir karena tidak hafal banyak doa dalam bahasa Arab. Kekhawatiran ini sebaiknya tidak membuat ibadah menjadi tegang. Berdoa dengan bahasa yang dipahami diperbolehkan, terutama untuk permohonan pribadi. Allah Maha Mengetahui semua bahasa dan isi hati hamba Nya.
Jamaah boleh membaca doa dalam bahasa Indonesia, seperti memohon agar diberi kesehatan, keluarga diberkahi, pekerjaan dimudahkan, utang dilunasi, anak diberi hidayah, orang tua diampuni, dan hati dijaga dari kesombongan. Doa yang lahir dari hati sering kali terasa lebih khusyuk karena jamaah memahami setiap kata yang diucapkan.
Namun tetap baik jika jamaah menghafal beberapa doa Arab yang pendek, seperti takbir, istighfar, tasbih, selawat, dan doa sapu jagat. Bacaan tersebut dapat menjadi pegangan ketika jamaah bingung harus membaca apa di tengah ramainya tawaf.
Dzikir yang Bisa Dibaca Selama Tawaf
Selain doa, jamaah dapat memperbanyak dzikir selama tawaf. Dzikir membuat hati tetap terhubung dengan Allah dan membantu menjaga fokus. Bacaan dzikir tidak harus rumit. Kalimat pendek yang diulang dengan penghayatan sudah sangat baik.
Beberapa dzikir yang dapat dibaca antara lain:
سُبْحَانَ اللّٰهِ
Artinya, “Maha Suci Allah.”
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
Artinya, “Segala puji bagi Allah.”
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Artinya, “Tidak ada Tuhan selain Allah.”
اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Artinya, “Allah Maha Besar.”
Jamaah juga dapat membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat membawa ketenangan dan mengingatkan jamaah kepada Rasulullah yang mengajarkan tata cara ibadah kepada umatnya.
Adab Membaca Doa Saat Tawaf
Membaca doa saat tawaf perlu dilakukan dengan adab. Jamaah sebaiknya tidak mengeraskan suara secara berlebihan karena dapat mengganggu jamaah lain. Cukup membaca dengan suara pelan atau dalam hati. Masjidil Haram adalah tempat ibadah bersama, sehingga menjaga kenyamanan orang lain termasuk bagian dari akhlak.
Jamaah juga perlu menghindari saling dorong demi mendekati Ka’bah atau Hajar Aswad. Mencium Hajar Aswad memang memiliki keutamaan, tetapi tidak boleh dilakukan dengan menyakiti orang lain. Jika kondisi sangat ramai, cukup memberi isyarat dari jauh sambil membaca takbir.
Adab lain adalah tidak sibuk merekam diri sampai kehilangan kekhusyukan. Mengabadikan momen boleh saja dalam batas wajar, tetapi tawaf sebaiknya tetap menjadi ruang ibadah, bukan sekadar dokumentasi perjalanan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membaca Doa Tawaf
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap setiap putaran memiliki doa wajib tertentu. Akibatnya, jamaah merasa panik ketika lupa bacaan. Padahal, tidak ada kewajiban membaca doa khusus untuk setiap putaran. Jamaah boleh membaca doa apa saja yang baik.
Kesalahan lain adalah terlalu sibuk melihat buku doa hingga tidak memperhatikan langkah dan kondisi sekitar. Dalam keramaian tawaf, jamaah perlu tetap waspada agar tidak menabrak, tersandung, atau terpisah dari rombongan. Jika belum hafal doa panjang, lebih baik membaca doa pendek yang mudah diingat.
Ada pula jamaah yang mengikuti bacaan pembimbing dengan suara sangat keras. Jika dilakukan dalam rombongan kecil dan tidak mengganggu, hal itu masih dapat dimaklumi. Namun jika terlalu keras hingga mengganggu jamaah lain, sebaiknya suara diturunkan.
Tawaf untuk Jamaah Lansia dan Pemula
Bagi jamaah lansia atau pemula, tawaf bisa terasa melelahkan. Keramaian, jarak berjalan, dan suasana emosional sering membuat tubuh cepat lelah. Karena itu, bacaan doa sebaiknya dipilih yang mudah dan tidak membebani.
Jamaah lansia dapat membaca istighfar, takbir, selawat, dan doa sapu jagat. Jika tidak kuat membaca panjang, berzikir dalam hati juga baik. Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya. Yang penting adalah menjaga niat, mengikuti tata cara tawaf, dan tidak memaksakan diri secara berlebihan.
Pendamping jamaah lansia perlu membantu dengan lembut. Jangan memaksa mereka membaca banyak doa jika tubuhnya lelah. Terkadang, menggandeng tangan, menjaga langkah, dan membisikkan doa pendek sudah sangat membantu.
Waktu Doa yang Terasa Sangat Personal
Tawaf sering menjadi momen yang membuat air mata jamaah mudah turun. Ada yang teringat dosa, ada yang membawa rindu kepada orang tua, ada yang memohon anak, ada yang meminta kesembuhan, ada pula yang datang dengan beban hidup yang hanya ia dan Allah ketahui. Di hadapan Ka’bah, banyak hati menjadi lebih jujur.
“Di antara jutaan langkah saat tawaf, ada doa doa kecil yang mungkin tidak terdengar manusia, tetapi sangat dekat dengan Allah.”
Karena itu, jamaah sebaiknya menyiapkan daftar doa sebelum berangkat. Tuliskan nama orang tua, keluarga, guru, sahabat, dan permohonan penting. Daftar ini bukan untuk membuat ibadah kaku, tetapi membantu agar tidak ada doa penting yang terlupa saat hati terharu di depan Ka’bah.
Setelah Selesai Tawaf
Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jamaah dianjurkan melaksanakan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan. Jika area tersebut sangat padat, salat dapat dilakukan di tempat lain dalam Masjidil Haram. Keselamatan dan ketertiban tetap perlu dijaga.
Setelah salat, jamaah dapat kembali berdoa. Momen setelah tawaf adalah waktu yang baik untuk memohon kepada Allah. Jamaah bisa membaca doa pribadi, memperbanyak istighfar, dan meminta agar ibadah yang baru saja dilakukan diterima.
Bagi jamaah umrah, setelah tawaf biasanya rangkaian dilanjutkan dengan sa’i antara Safa dan Marwah. Maka, setelah tawaf, sebaiknya jamaah tetap menjaga tenaga, minum air zamzam secukupnya, dan menata hati untuk melanjutkan ibadah berikutnya dengan khusyuk.
- Share










