China Mulai Susun Tanding untuk Starlink, Balapan Internet Satelit Kian Serius
- Home
- China Mulai Susun Tanding untuk Starlink, Balapan Internet Satelit Kian Serius
China Mulai Susun Tanding untuk Starlink, Balapan Internet Satelit Kian Serius
China Mulai Susun Tanding untuk Starlink, Balapan Internet Satelit Kian Serius China mulai memperjelas langkahnya untuk menantang dominasi Starlink dalam bisnis internet satelit orbit rendah. Yang sedang dibangun bukan satu proyek kecil, melainkan rangkaian konstelasi satelit besar yang disiapkan untuk memberi layanan broadband dari luar angkasa, baik untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional. Proyek yang paling banyak disorot saat ini adalah Qianfan atau Thousand Sails, yang juga dikenal sebagai Spacesail Constellation, sementara proyek besar lain seperti Guowang ikut bergerak di jalur yang sama. Reuters melaporkan bahwa Spacesail telah mengumumkan rencana mengerahkan 648 satelit pada 2025 dan sebanyak 15.000 satelit pada 2030, sementara Beijing secara keseluruhan menargetkan puluhan ribu satelit orbit rendah dalam beberapa dekade mendatang.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan internet satelit tidak lagi hanya berpusat pada SpaceX. Selama beberapa tahun terakhir, Starlink memang memimpin sangat jauh, dengan ribuan satelit aktif dan jangkauan global yang terus meluas. Namun China kini bergerak dari fase wacana ke fase implementasi. Peluncuran satelit dilakukan bertahap, infrastruktur roket komersial terus diperkuat, dukungan kebijakan negara makin jelas, dan ekspansi ke pasar luar negeri mulai dibuka. Reuters juga mencatat bahwa satelit orbit rendah kini menjadi prioritas strategis bagi China, bukan hanya karena nilai ekonominya, tetapi juga karena kegunaan komunikasi modern tersebut dalam konflik militer dan keamanan nasional.
Persaingan ini bukan lagi soal mimpi, tetapi proyek yang sudah berjalan
Kalau beberapa tahun lalu proyek satelit internet China lebih sering dibahas sebagai ambisi jangka panjang, kini gambarnya sudah berbeda. Pada Agustus 2024, Reuters melaporkan bahwa China meluncurkan 18 satelit pertama untuk konstelasi yang dirancang sebagai saingan Starlink. Peluncuran itu menandai dimulainya langkah nyata pembangunan jaringan internet satelit orbit rendah yang sebelumnya lebih banyak dikenal lewat rencana besar di atas kertas.
Sejak itu, ritmenya terus bergerak. China Daily melaporkan bahwa pada April 2026, China kembali meluncurkan 18 satelit untuk batch ketujuh Qianfan dari pusat peluncuran komersial di Wenchang, Hainan. Setelah peluncuran tersebut, total 126 satelit telah ditempatkan ke orbit untuk konstelasi ini. Angka itu memang masih kecil jika dibandingkan dengan Starlink, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar simbolik. Ada jadwal, ada peluncuran berkala, dan ada infrastruktur yang sedang dibangun untuk mempercepat ritmenya.
Bila dilihat dari sisi industri, ini penting karena jaringan satelit orbit rendah tidak bisa dibangun setengah setengah. Perlu roket, pabrik satelit, lisensi spektrum, izin radio, pusat kendali, sampai skema bisnis untuk menjual layanan ke pengguna. Fakta bahwa Qianfan sudah mengirim satelit berkali kali ke orbit menunjukkan bahwa China sedang membangun seluruh ekosistemnya sekaligus, bukan hanya mengejar efek pemberitaan.
Qianfan jadi ujung tombak yang paling terlihat
Di antara semua proyek China, Qianfan atau Spacesail saat ini menjadi nama yang paling sering disebut sebagai penantang langsung Starlink. Reuters menggambarkannya sebagai dorongan internasional pertama China dalam broadband satelit orbit rendah. Konstelasi ini dikendalikan oleh pemerintah kota Shanghai melalui entitas yang dikenal sebagai SpaceSail atau Shanghai Spacesail Technologies, dan rencananya sangat besar. Reuters menulis bahwa Spacesail berencana mengerahkan 648 satelit dalam satu tahun awal dan menargetkan 15.000 satelit pada 2030.
China Daily menambahkan bahwa proyek ini dioperasikan oleh Shanghai Spacesail Technologies dan dirancang sebagai jaringan satelit orbit rendah komersial berskala sangat besar. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China juga disebut telah memfasilitasi koordinasi frekuensi domestik, penerbitan lisensi stasiun radio ruang angkasa, dan izin penggunaan frekuensi untuk mendukung implementasi Qianfan. Ini berarti Qianfan bukan hanya proyek industri, tetapi juga proyek yang jelas mendapat dukungan regulator.
Yang membuat Qianfan menarik adalah orientasi internasionalnya. Bila beberapa proyek satelit China sering dibaca terutama dalam kacamata kebutuhan domestik atau negara, Qianfan justru sejak awal diarahkan untuk menjangkau pasar luar negeri. Reuters menyebut proyek ini sebagai bagian penting dari dorongan China untuk menguasai lebih banyak slot orbit rendah dan membangun pengaruh digital yang melintasi batas negara.
Guowang masih bergerak, meski lebih senyap
Selain Qianfan, proyek lain yang terus diamati adalah Guowang. Nama ini sudah lama disebut sebagai salah satu konstelasi besar China yang disiapkan untuk menandingi Starlink. Reuters pada 2025 menulis bahwa selain Qianfan, ada beberapa konstelasi China lain yang juga sedang dikembangkan, dan keseluruhan rencana Beijing menyentuh sekitar 43.000 satelit orbit rendah dalam beberapa dekade.
Guowang sendiri sering dipersepsikan lebih dekat ke kebutuhan negara dan keamanan, sedangkan Qianfan tampil lebih agresif untuk komersialisasi luar negeri. Meskipun sumber yang paling mutakhir dalam penelusuran ini lebih banyak menyorot Qianfan, keberadaan Guowang tetap penting karena menunjukkan bahwa strategi China tidak bertumpu pada satu taruhan saja. Mereka membangun lebih dari satu jalur, dengan pemain berbeda dan kemungkinan fungsi yang juga berbeda.
Bagi pengamat industri, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa China tidak hanya ingin punya satu “Starlink versi lokal.” Mereka sedang membangun beberapa jaringan besar sekaligus, sehingga jika satu jalur tersendat, jalur lain masih bisa melaju. Ini juga memberi fleksibilitas dalam membagi kebutuhan komersial, sipil, dan strategis.
Kenapa China begitu serius mengejar internet satelit
Ada alasan ekonomi, tetapi ada juga alasan strategis yang jauh lebih besar. Reuters menulis bahwa komunikasi murah dan andal dari satelit orbit rendah telah memainkan peran penting dalam konflik militer modern, terutama setelah Starlink tampil menonjol dalam perang Rusia melawan Ukraina. Di mata China, dominasi satu perusahaan Amerika di ruang angkasa bawah jelas dibaca sebagai kerentanan geopolitik. Reuters juga menyebut bahwa militer China berulang kali memperingatkan dominasi Starlink di orbit rendah sebagai ancaman keamanan.
Dari sisi sipil, internet satelit orbit rendah juga menjanjikan akses broadband untuk daerah terpencil, wilayah bencana, jalur maritim, penerbangan, dan lokasi yang sulit dijangkau infrastruktur serat optik. Itulah sebabnya proyek seperti Qianfan tidak hanya dijual sebagai kebanggaan teknologi, tetapi juga sebagai solusi konektivitas. Reuters mencatat bahwa Spacesail menyebut layanannya ditujukan untuk pengguna di daerah terpencil dan untuk pemulihan setelah keadaan darurat atau bencana alam.
Ketika dua kepentingan itu bertemu, yakni konektivitas sipil dan kepentingan strategis negara, dorongan pembangunannya otomatis menjadi jauh lebih kuat. Ini menjelaskan mengapa China tidak menaruh proyek ini hanya di pundak satu perusahaan swasta kecil, melainkan mendukung seluruh ekosistem industri ruang angkasa komersialnya.
Infrastruktur pendukungnya ikut dibangun besar besaran
Persaingan internet satelit tidak akan jalan tanpa kapasitas peluncuran yang kuat. Inilah area yang juga sedang dibenahi China. Reuters melaporkan bahwa Beijing tengah menyiapkan Satellite Town, sebuah pusat industri satelit yang dirancang untuk menjadi hub produsen dan operator satelit, dengan area inti ditargetkan selesai pada paruh kedua 2026. Reuters juga menulis bahwa lebih dari 60 persen peluncuran ruang angkasa China kini dilakukan oleh entitas komersial, menandakan betapa cepat industri ini berkembang.
China Daily menambahkan bahwa pusat peluncuran komersial di Wenchang sedang mempercepat perluasan fasilitas. Jumlah launch pad akan digandakan dari dua menjadi empat, dengan target kemampuan lebih dari 60 peluncuran per tahun ketika fasilitas tambahan selesai. Ada juga dorongan untuk teknologi pemulihan roket, yang penting untuk menekan biaya.
Langkah ini sangat penting karena salah satu keunggulan besar Starlink adalah ritme peluncuran yang sangat cepat berkat roket reusable SpaceX. Kalau China ingin benar benar menyaingi Starlink, mereka tidak cukup hanya punya desain satelit. Mereka harus punya kemampuan mengirim satelit dalam jumlah besar, secara berkala, dengan ongkos yang makin efisien. Perluasan launch pad, industrial clustering, dan dukungan dana industri adalah bagian dari upaya mengejar ketertinggalan itu.
China juga mulai mengincar pasar luar negeri
Persaingan melawan Starlink tidak akan dimenangkan hanya dengan melayani pasar domestik. Starlink kuat karena jangkauannya global. China tampaknya memahami hal ini, dan Qianfan menjadi instrumen paling jelas untuk ekspansi tersebut. Reuters melaporkan bahwa Brazil menyambut kehadiran pesaing Starlink dari China, terutama karena negara itu ingin menghadirkan internet cepat ke daerah terpencil dan sebelumnya juga sempat berseberangan dengan Elon Musk dalam isu politik dan bisnis.
China Daily menyebut regulator telekomunikasi Brazil, Anatel, telah mengizinkan konstelasi Spacesail memulai layanan komunikasi komersial di negara itu pada Februari 2026. Langkah itu berakar pada nota kesepahaman yang ditandatangani antara Spacesail dan Telebras pada November 2024, dengan fokus menyediakan internet broadband ke wilayah terpencil, sekolah, dan rumah sakit.
Tidak berhenti di situ, China Daily juga menulis bahwa uji coba Qianfan telah dilakukan di Malaysia, Mongolia, dan Kazakhstan, dengan hasil video streaming dan video call yang disebut stabil. Ini menunjukkan bahwa China tidak hanya bicara soal niat ekspansi, tetapi sudah menjalankan langkah teknis awal untuk membangun kredibilitas layanan di luar negeri.
Bila pola ini berlanjut, maka pertarungan dengan Starlink akan makin nyata di negara negara berkembang yang membutuhkan konektivitas murah dan cepat. Di wilayah seperti itu, harga, diplomasi, dan kepercayaan politik bisa sama pentingnya dengan kualitas teknis.
Starlink masih unggul jauh, tetapi China mulai menutup jarak
Perlu diakui, posisi Starlink saat ini masih jauh di depan. Reuters menulis bahwa Starlink memiliki sekitar 7.000 satelit dan menargetkan 42.000 satelit pada akhir dekade. Dibanding angka itu, Qianfan yang baru mencapai 126 satelit jelas masih tertinggal sangat jauh.
Namun, keunggulan Starlink tidak berarti perlombaan sudah selesai. Yang berubah sekarang adalah tingkat keseriusan penantangnya. Jika dulu banyak proyek saingan hanya berada di tahap rencana, kini China mulai menunjukkan tiga hal sekaligus: peluncuran berkala, dukungan industri besar, dan dorongan masuk ke pasar internasional. Itu membuat persaingan menjadi jauh lebih nyata daripada sekadar perbandingan roadmap.
Selain itu, China juga sedang memperkuat sisi rantai pasok dan pembiayaan. Reuters melaporkan bahwa GalaxySpace, salah satu produsen satelit orbit rendah penting di China, telah memulai proses persiapan IPO. Reuters menulis bahwa perusahaan ini sudah bekerja sama dengan pengembang roket China untuk menempatkan puluhan satelit ke orbit dan juga mulai membangun kemitraan luar negeri, termasuk di Thailand.
Artinya, China tidak hanya mengandalkan badan negara besar. Mereka juga menumbuhkan pemain komersial yang bisa menopang ekosistem satelit orbit rendah dari sisi produksi, pembiayaan, dan ekspansi regional.
Yang diperebutkan bukan hanya pengguna, tetapi juga slot orbit dan pengaruh
Ada satu sisi lain yang sering luput dari perhatian publik, yakni perebutan slot orbit dan spektrum. Reuters mengutip pengamat ruang angkasa yang menyebut “endgame” dari perlombaan ini adalah menempati sebanyak mungkin slot orbit. Orbit rendah dan spektrum radio bukan sumber daya tanpa batas. Siapa yang lebih cepat menempatkan satelit dan mengamankan koordinasi spektrum akan berada pada posisi lebih kuat.
Itulah sebabnya China tampak terburu buru tetapi terstruktur. Peluncuran bukan cuma soal menunjukkan kemampuan, melainkan juga soal menegaskan kehadiran sebelum aturan internasional makin ketat. Dalam industri ruang angkasa, kecepatan bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal posisi hukum dan geopolitik.
Di luar itu, perebutan ini juga menyentuh pengaruh digital. Reuters mencatat adanya kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan Barat bahwa ekspansi satelit internet China dapat memperluas jangkauan model tata kelola internet Beijing. Dengan kata lain, jaringan internet satelit tidak dipandang netral. Ia bisa membawa nilai ekonomi, kontrol informasi, hingga pengaruh strategis lintas negara.
China sedang bergerak dari pengejar menjadi penantang sungguhan
Kalau semua potongan ini dirangkai, gambarnya menjadi cukup jelas. China memang belum menyamai Starlink dalam skala, kecepatan, atau jumlah satelit aktif. Tetapi China sudah masuk ke tahap yang lebih serius dari sekadar ancang ancang simbolik. Mereka meluncurkan satelit secara berkala, membangun pusat industri dan peluncuran, menyiapkan perusahaan untuk IPO, memperluas uji coba ke luar negeri, dan mulai memperoleh izin komersial di pasar strategis seperti Brazil.
Bagi dunia telekomunikasi, ini berarti satu hal penting. Dominasi Starlink yang selama ini terasa nyaris tanpa pesaing mulai mendapat tantangan yang lebih konkret. Belum tentu China akan menyalip cepat, dan belum tentu juga semua proyeknya berjalan mulus. Tetapi perlombaan internet satelit kini jelas memasuki babak baru, karena salah satu negara dengan kapasitas industri terbesar di dunia sedang bergerak penuh ke orbit rendah.
“China belum menumbangkan Starlink, tetapi kini ia tidak lagi berdiri sebagai penonton. Ia sudah mulai masuk ke lintasan balap yang sama.”
Kalimat itu terasa pas untuk membaca situasi saat ini. Yang sedang terjadi bukan kemenangan cepat, melainkan pembentukan tanding besar yang akan membentuk ulang peta internet satelit global dalam beberapa tahun ke depan.
- Share










