Sabrina Chairunnisa Jalani Egg Freezing, Ini Penjelasan Medisnya
- Home
- Sabrina Chairunnisa Jalani Egg Freezing, Ini Penjelasan Medisnya
Sabrina Chairunnisa Jalani Egg Freezing, Ini Penjelasan Medisnya
Sabrina Chairunnisa Jalani Egg Freezing, Ini Penjelasan Medisnya Sabrina Chairunnisa kembali menjadi perhatian publik setelah membagikan pengalaman menjalani egg freezing atau pembekuan sel telur di New York, Amerika Serikat. Keputusan itu menjadi perbincangan karena topik kesehatan reproduksi perempuan masih jarang dibahas secara terbuka oleh figur publik Indonesia. Di usia 33 tahun, Sabrina memperlihatkan bahwa pilihan medis seperti ini tidak hanya berkaitan dengan keinginan memiliki anak, tetapi juga kesiapan tubuh, waktu pribadi, tekanan sosial, dan ruang perempuan untuk mengambil keputusan atas dirinya sendiri.
Sabrina Chairunnisa Membuka Cerita Pribadi di New York
Kabar Sabrina menjalani egg freezing pertama kali ramai setelah ia membagikan pengalamannya melalui media sosial. Dalam unggahan tersebut, ia memperlihatkan sebagian proses yang dijalani, termasuk konsultasi dengan dokter dan tahapan suntik hormon sebagai persiapan pengambilan sel telur. Fimela melaporkan bahwa Sabrina awalnya ragu membagikan pengalaman ini karena sifatnya sangat personal, tetapi akhirnya memilih bercerita agar informasi soal kesehatan reproduksi perempuan bisa dibicarakan lebih terbuka.
Keputusan Sabrina dinilai cukup berani karena masyarakat Indonesia masih sering memandang topik kesuburan sebagai urusan yang sangat pribadi. Usia, pernikahan, rencana memiliki anak, dan kondisi tubuh perempuan kerap menjadi bahan komentar publik. Saat figur publik membahas pembekuan sel telur, pembicaraan tidak lagi hanya berada di ruang klinik, tetapi masuk ke ruang sosial yang lebih luas.
Laporan RCTI Plus menyebut Sabrina mengunggah ceritanya pada Jumat, 22 Mei 2026. Dalam unggahan itu, ia menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menyangka egg freezing akan menjadi bagian dari kegiatan hariannya selama berada di New York pada usia 33 tahun. Ia juga menyebut perjalanan hidupnya beberapa tahun terakhir berjalan di luar rencana yang pernah ia bayangkan.
Apa Itu Egg Freezing
Egg freezing adalah prosedur medis untuk mengambil, membekukan, dan menyimpan sel telur perempuan agar dapat digunakan pada waktu lain. Dalam istilah medis, prosedur ini disebut oocyte cryopreservation. Mayo Clinic menjelaskan bahwa prosedur ini dilakukan dengan mengambil sel telur yang belum dibuahi, lalu membekukannya untuk disimpan. Sel telur tersebut dapat dicairkan kembali saat pasien ingin menggunakannya dalam proses reproduksi berbantu.
Pembekuan sel telur berbeda dengan pembekuan embrio. Pada egg freezing, yang disimpan adalah sel telur yang belum dibuahi. Artinya, prosedur ini dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang belum memiliki pasangan, belum ingin membuat embrio, atau memiliki alasan medis tertentu. Dengan cara ini, pasien menyimpan sel telur terlebih dahulu tanpa harus langsung menjalani proses kehamilan.
Secara sederhana, egg freezing memberi kesempatan kepada perempuan untuk menyimpan sel telur pada usia tertentu. Meski begitu, prosedur ini bukan jaminan pasti seseorang akan memiliki anak. Keberhasilan tetap dipengaruhi banyak hal, mulai dari usia saat sel telur diambil, jumlah sel telur yang berhasil dibekukan, kualitas sel telur, kondisi sperma, kualitas embrio, sampai kondisi rahim ketika embrio dipindahkan.
Mengapa Keputusan Sabrina Banyak Dibicarakan
Keputusan Sabrina banyak dibicarakan karena ia membahas sesuatu yang selama ini sering tertutup oleh rasa sungkan. Banyak perempuan mengetahui bahwa usia berpengaruh pada kesuburan, tetapi tidak semua mendapat akses informasi yang jelas. Sebagian lagi merasa takut dinilai terlalu memikirkan rencana pribadi jika bertanya soal pembekuan sel telur.
Sabrina juga menyinggung tekanan sosial yang sering dialami perempuan terkait usia, pernikahan, dan pilihan memiliki anak. Menurut laporan Fimela, ia ingin menyampaikan bahwa setiap perempuan memiliki jalan hidup masing masing. Unggahan itu kemudian mendapat banyak dukungan dari warganet karena dianggap membuka ruang diskusi yang selama ini jarang terlihat di hadapan publik.
Hal ini memperlihatkan bahwa egg freezing bukan hanya urusan medis. Ada unsur psikologis, sosial, biaya, relasi keluarga, dan perasaan pribadi yang menyertainya. Perempuan yang mengambil langkah ini bisa saja sedang mempertimbangkan banyak hal dalam hidupnya, bukan sekadar mengikuti tren.
Tahapan Egg Freezing dari Awal Sampai Penyimpanan
Proses egg freezing biasanya dimulai dengan konsultasi bersama dokter spesialis fertilitas. Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan, siklus menstruasi, cadangan ovarium, hormon, serta kondisi umum pasien. Pemeriksaan awal ini penting agar dokter dapat menilai apakah pasien cocok menjalani prosedur dan bagaimana rencana stimulasi ovarium disusun.
Setelah pemeriksaan, pasien biasanya mendapat obat hormon untuk merangsang ovarium menghasilkan beberapa sel telur matang dalam satu siklus. Pada tahap ini, pasien perlu melakukan suntikan hormon secara teratur. Popmama melaporkan bahwa Sabrina membagikan proses dirinya menjalani pemeriksaan dan menyuntikkan hormon ke perutnya sendiri setiap hari sebagai bagian dari tahapan egg freezing.
Selama stimulasi, dokter memantau perkembangan folikel melalui ultrasonografi dan pemeriksaan darah. Setelah sel telur dinilai cukup matang, dokter melakukan prosedur pengambilan sel telur. Proses ini biasanya dilakukan di klinik fertilitas dengan obat bius ringan atau sedasi. Sel telur yang berhasil diambil kemudian diperiksa, dipilih, dan dibekukan menggunakan teknik khusus agar dapat disimpan dalam fasilitas bersuhu sangat rendah.
Usia Menjadi Pertimbangan Penting
Usia menjadi salah satu faktor utama dalam egg freezing. Secara biologis, jumlah dan kualitas sel telur perempuan menurun seiring bertambahnya usia. Karena itu, banyak dokter menyarankan perempuan yang mempertimbangkan pembekuan sel telur untuk berkonsultasi lebih awal, bukan menunggu sampai cadangan sel telur turun terlalu jauh.
HFEA, otoritas fertilitas di Inggris, mencatat bahwa rata rata usia pasien yang membekukan sel telur di Inggris pada 2023 adalah 35 tahun, sedangkan rata rata usia saat mencairkan sel telur adalah 40 tahun. HFEA juga menyebut jumlah siklus egg freezing di Inggris meningkat dari 2.567 pada 2019 menjadi 6.932 pada 2023, dengan kenaikan besar pada kelompok usia 30 sampai 37 tahun.
Dalam kasus Sabrina, usia 33 tahun membuat pembahasan ini terasa dekat bagi banyak perempuan pekerja aktif. Pada rentang usia tersebut, sebagian perempuan mulai serius memeriksa kesehatan reproduksi, tetapi belum tentu siap memiliki anak dalam waktu dekat. Egg freezing lalu muncul sebagai salah satu pilihan medis yang dapat dibicarakan bersama dokter.
Egg Freezing Tidak Sama dengan Jaminan Kehamilan
Salah satu hal paling penting untuk dipahami adalah egg freezing tidak boleh dipandang sebagai jaminan pasti memiliki anak. Prosedur ini memberi peluang, tetapi tidak menghapus seluruh risiko biologis. Sel telur yang dibekukan harus bertahan saat dicairkan. Setelah itu, sel telur harus berhasil dibuahi, berkembang menjadi embrio, lalu embrio harus mampu menempel dan berkembang dalam rahim.
Mayo Clinic menyebut sel telur tidak selalu bertahan sebaik embrio melalui proses pembekuan dan pencairan. Dalam penjelasan mereka, sel telur dapat bertahan melalui proses tersebut dengan tingkat keberhasilan sampai sekitar 85 persen, tetapi prosedurnya tetap membutuhkan beberapa minggu dan tidak menjamin kehamilan.
ASRM juga menekankan bahwa planned oocyte cryopreservation merupakan prosedur yang secara etik dapat diterima, tetapi pasien harus mendapat informasi lengkap tentang manfaat, biaya, keterbatasan, ketidakpastian hasil, serta hal yang belum sepenuhnya diketahui.
Risiko Medis yang Perlu Diketahui
Egg freezing umumnya dapat dilakukan dengan aman jika ditangani dokter dan fasilitas yang sesuai. Namun, tetap ada risiko dan efek samping yang perlu diketahui. Penggunaan hormon dapat membuat tubuh terasa kembung, tidak nyaman, nyeri ringan, mual, perubahan suasana hati, atau terasa lebih sensitif.
Risiko yang lebih serius, meski tidak sering terjadi, adalah ovarian hyperstimulation syndrome. Kondisi ini muncul ketika ovarium bereaksi berlebihan terhadap obat stimulasi. Gejalanya dapat berupa perut sangat kembung, nyeri, mual berat, muntah, sesak, atau penumpukan cairan. Karena itu, pemantauan dokter selama proses stimulasi menjadi bagian penting dari prosedur.
Pasien juga perlu memahami risiko kecil dari tindakan pengambilan sel telur, seperti perdarahan, infeksi, atau nyeri setelah prosedur. Risiko ini perlu dijelaskan oleh dokter sebelum pasien memberi persetujuan tindakan. Setiap orang memiliki kondisi tubuh berbeda, sehingga rencana medis tidak bisa disamakan hanya berdasarkan cerita orang lain.
Biaya Menjadi Pertimbangan Besar
Egg freezing bukan prosedur murah. Biaya dapat berbeda di tiap negara, klinik, dan kondisi pasien. Komponen biaya biasanya mencakup konsultasi, pemeriksaan hormon, ultrasonografi, obat stimulasi ovarium, tindakan pengambilan sel telur, pembekuan, dan penyimpanan tahunan. Jika sel telur kelak digunakan, masih ada biaya pencairan sel telur, pembuahan, pembentukan embrio, dan pemindahan embrio.
Di Amerika Serikat, biaya egg freezing sering berada pada angka tinggi karena obat hormon dan layanan klinik fertilitas tidak selalu ditanggung asuransi. Investopedia mencatat satu siklus egg freezing dapat menghabiskan biaya besar, dengan obat, tindakan, dan penyimpanan menjadi komponen yang perlu dihitung sejak awal.
Bagi masyarakat Indonesia, biaya juga dapat menjadi alasan mengapa prosedur ini belum populer. Selain biaya tindakan, pasien perlu mempertimbangkan biaya kontrol berulang, waktu cuti, transportasi, pendampingan, dan biaya penyimpanan sel telur setiap tahun.
Mengapa Ada Perempuan Memilih Egg Freezing
Alasan perempuan memilih egg freezing sangat beragam. Ada yang melakukannya karena alasan medis, misalnya sebelum menjalani terapi kanker, operasi tertentu, atau kondisi kesehatan yang berpotensi mengganggu fungsi ovarium. Ada pula yang memilih karena alasan personal, seperti belum menikah, belum siap memiliki anak, sedang menjalani pendidikan, atau ingin lebih dulu menata kondisi pekerjaan dan keluarga.
Dalam kasus Sabrina, ia menyampaikan bahwa keputusan ini tidak mudah dibagikan, tetapi ia merasa banyak perempuan membutuhkan informasi semacam ini. Popmama menulis bahwa Sabrina ingin menyuarakan pemberdayaan perempuan melalui cerita pengalamannya, terutama agar perempuan tidak merasa sendirian ketika memikirkan rencana hidup dan kesehatan reproduksi.
Pilihan seperti ini perlu dibaca dengan empati. Tidak semua perempuan memiliki keadaan yang sama. Ada yang ingin segera memiliki anak, ada yang menunda karena alasan tertentu, ada pula yang sedang berjuang dengan kondisi medis. Egg freezing menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan, tetapi tetap harus melalui konsultasi profesional.
Tekanan Sosial terhadap Perempuan Masih Terasa Kuat
Di banyak lingkungan, perempuan masih sering mendapat pertanyaan berulang tentang kapan menikah, kapan punya anak, atau kapan menambah anak. Pertanyaan seperti itu bisa terdengar ringan, tetapi bagi sebagian orang dapat menjadi tekanan besar, terutama ketika mereka sedang menghadapi persoalan pribadi, kesehatan, pekerjaan, atau relasi.
Cerita Sabrina membuat pembahasan ini terasa nyata. Ia tidak hanya menunjukkan sisi medis, tetapi juga sisi emosional dari sebuah keputusan. Keberaniannya berbagi membuat banyak orang mulai membicarakan bahwa perempuan berhak memahami tubuhnya sendiri, bertanya kepada dokter, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi pribadi.
Ruang diskusi seperti ini penting agar kesehatan reproduksi tidak terus dianggap tabu. Semakin banyak informasi yang benar, semakin kecil peluang masyarakat mempercayai mitos. Namun, informasi dari media sosial tetap perlu dilengkapi dengan konsultasi dokter, karena kondisi setiap tubuh tidak sama.
Bedanya Egg Freezing dan Program Bayi Tabung
Banyak orang masih menyamakan egg freezing dengan program bayi tabung. Keduanya memang berkaitan dengan teknologi reproduksi berbantu, tetapi tahap dan tujuannya berbeda. Egg freezing menyimpan sel telur yang belum dibuahi. Program bayi tabung melibatkan pembuahan sel telur dengan sperma di laboratorium, lalu embrio dipindahkan ke rahim.
Pada egg freezing, pasien belum tentu langsung mencoba hamil. Sel telur disimpan dulu. Pada waktu lain, bila pasien ingin menggunakannya, sel telur dicairkan dan diproses lebih lanjut. Karena itulah egg freezing sering dipilih oleh perempuan yang belum ingin atau belum bisa menjalani proses kehamilan saat ini.
Perbedaan ini perlu dijelaskan agar publik tidak salah paham. Egg freezing bukan berarti seseorang sedang menjalani kehamilan. Prosedur ini juga bukan tanda bahwa seseorang pasti akan memakai sel telur tersebut. Dalam beberapa kasus, sel telur yang dibekukan tidak pernah digunakan, tetapi tetap memberi pilihan bagi pasien.
Pertanyaan yang Perlu Dibawa ke Dokter
Perempuan yang tertarik mengetahui egg freezing sebaiknya tidak hanya mencari informasi dari media sosial. Konsultasi dengan dokter spesialis fertilitas tetap menjadi langkah utama. Beberapa pertanyaan penting yang dapat dibawa antara lain berapa cadangan ovarium saat ini, berapa perkiraan sel telur yang bisa diambil, berapa siklus yang mungkin dibutuhkan, apa risikonya, dan bagaimana peluang sesuai usia.
Pasien juga perlu menanyakan biaya total, biaya penyimpanan, aturan jika ingin memindahkan sel telur ke klinik lain, prosedur saat sel telur ingin digunakan, serta kebijakan klinik tentang keamanan penyimpanan. Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan jika tubuh tidak merespons obat stimulasi dengan baik.
Cerita Sabrina Chairunnisa membuat egg freezing menjadi topik yang lebih mudah dibicarakan di ruang publik. Namun, keputusan menjalani prosedur ini tetap sangat personal. Setiap perempuan perlu mendapat informasi yang utuh, pemeriksaan medis yang tepat, dukungan emosional, dan ruang untuk menentukan pilihan tanpa dipaksa ukuran hidup orang lain.
- Share










